PROMOSI

JAMILA TRAVEL

Umroh Plus Turky ***

blog post alt

1. Hagia Sophia - Istanbul, Turki
Turki pernah mencapai kejayaannya di bawah Dinasti Usmaniyah. Wisatawan bisa berwisata religi untuk melihat jejak kejayaannya di Museum Hagia Sophia. Dilansir dari situ resmi Museum Hagia Sophia, sebelum menjadi museum seperti sekarang, Hagia Sophia pertama kali dibangun sebagai sebuah Gereja Ortodoks. Pantas jika Hagia Sophia memiliki gaya arsitektur khas Byzantium yang indah. Baru setelah Kota Konstantinopel jatuh ke tangan Dinasti Usmaniyah di tahun 1453, Hagia Sophia di alih fungsikan sebagai Masjid. Mengingat ekspansi Dinasti Usmaniyah membawa nafas Islam yang kental di dataran Eropa. Walaupun telah berubah menjadi sebuah masjid, tidak ada perubahan arsitektur maupun interior dari Hagia Sophia. Perubahan hanya berupa penambahan kaligrafi - kaligrafi Islam dan mimbar untuk tempat imam sholat. Sebuah bukti bahwa umat Islam adalah umat yang toleran di masa itu. Keindahan interior Hagia Sophia semakin bertambah dengan adanya hiasan kaligrafi Allah yang berdampingan dengan lukisan Bunda Maria. Ada juga lukisan Yesus yang bersebelahan tepat dengan kaligrafi Al Quran. Sungguh perpaduan yang sangat unik dan indah. Selain itu, mimbar masjid dan hiasan masjid lainnya juga masih ada dan terjaga. Selama 500 tahun Hagia Sophia berfungsi sebagai masjid. Baru di era 1990-an, Pemerintah Turki menjadikan Hagia Sophia sebagai sebuah Museum yang bisa dimasuki oleh para wisatawan. Hagia Sophia sudah terkenal seantero dunia dan menjadi ikon kebanggaan negara Turki. Tidak sah rasanya jika berkunjung ke Turki tanpa berkunjung ke Hagia Sophia. Dengan harga tiket masuk sebesar 25 lira atau setara Rp 140.000, Anda sudah bisa masuk ke dalam Museum ini untuk menikmati peninggalan sejarah kejayaan Kerajaan Turki yang luhur. Bisa dipastikan Anda akan terpana dan terbius oleh pesona Museum Hagia Sophia. Lokasi ini pun dijadikan lokasi syuting (99 Cahaya di Langit Eropa) yang laris manis ditonton orang. Sangat sayang untuk Anda lewatkan kesempatan berkunjung ke Hagia Sophia.

2. Blue Mosque - Istanbul, Turki
Turki memang memiliki sejuta pesona. Salah satu keindahan yang memukau di Turki adalah Masjid Sultan Ahmed. Orang - orang mengenalnya dengan Masjid biru atau Blue Mosque. Masjid yang gagah nan megah ini merupakan simbol kejayaan Islam melalui Kekaisaran Utsmaniyah Turki dimasa lampau. Letaknya di kota Istanbul dekat tepian laut marmara. Kota terbesar di Turki dan merupakan ibukota Kesultanan Utsmaniyah (dari 1453 sampai 1923). Dikenal dengan nama Masjid Biru karena pada masa lalu interiornya memang berwarna biru. Akan tetapi cat biru tersebut bukan merupakan bagian dari dekor asli Masjid, maka cat tersebut pun dihilangkan. Warna kubahnya tidak tampak biru jika dari kejauhan, tetapi warna kebiru - biruan itu akan terlihat dari dekat. Keindahan laut marmara akan terlihat saat berada di masjid ini. Apalagi di saat langit mulai senja. Karena keindahannya, masjid ini pun menjadi maskot atau ciri khas dari kota Istanbul. Blue Mosque saat ini merupakan masjid yang terbesar di Turki. Masjid Biru didirikan antara tahun 1609 dan 1616 atas perintah Sultan Ahmed I, yang kemudian menjadi nama masjid tersebut. Ia memberikan mandat kepada seorang arsitek bernama Sedefhar Mehmet Aga untuk membangun masjid ini. Sedefhar juga diminta Sultan untuk tidak perlu berhemat biaya dalam pembangunan tempat ibadah umat Islam yang besar dan indah ini. Sedefhar Mehmet Aga sendiri merupakan murid dan asisten dari arsitektur terkenal Mimar Sinan. Menurut informasi, Sultan Ahmed I menginginkan untuk dibuat menara yang terbuat dari emas. Kata emas dalam bahasa Turki adalah (Altin). Tapi sang arsitek memahaminya dengan (Alti), yang dalam bahasa Turki berarti 6. Sehingga jadilah sebuah masjid yg memiliki 6 menara. Namun Sultan Ahmed pun terpukau dengan keenam menara masjid yang unik itu. Pembangunan masjid ini memerlukan waktu 7 tahun atau selesai pada tahun 1616. Kabarnya, akibat jumlah menara yang sama dengan Masjidil Haram di Makkah saat itu, Sultan Ahmed I mendapat kritikan tajam sehingga akhirnya beliau menyumbangkan biaya pembuatan menara ketujuh untuk Masjidil Haram. Hagia Sophia berada satu blok dari Masjid Biru. Struktur dasar bangunan ini hampir berbentuk kubus, berukuran 53 kali 51 meter. Seperti halnya di semua masjid, masjid ini diarahkan sedemikian rupa sehingga orang yang melakukan Salat menghadap ke Makkah, dengan mihrab berada di depan. Masjid Biru memiliki 6 menara, diameter kubah 23,5 meter dan tinggi kubah 43 meter, kolom beton berdiameter 5 meter. Jaraknya cukup dekat dengan Istana Topkapı, tempat kediaman para Sultan Utsmaniyah sampai tahun 1853 dan tidak jauh dari pantai Bosporus. Dilihat dari laut, kubah dan menaranya mendominasi cakrawala kota Istanbul. Interior masjid ini dihiasi 20.000 keramik dari Iznik berwarna biru, hijau, ungu, dan putih. Ornamen bunga-bungaan dan tanaman bersulur itu tampak sangat indah memendarkan warna biru saat ditimpa cahaya matahari yang masuk lewat jendela 260 kaca patri. Terdapat pilar-pilar marmer dan lebih dari 200 jendela kaca patri dengan berbagai desain yang memancarkan cahaya dari luar dengan dibantu chandeliers. Dalam chandeliers diletakkan telur burung unta untuk mencegah laba-laba membuat sarang di situ. Dekorasi lainnya adalah kaligrafi ayat - ayat Alquran yang sebagian besar dibuat oleh Seyyid Kasim Gubari, salah satu kaligrafer terbaik pada masa itu.

3. Istana Topkapi - Istanbul, Turki
Selama kekuasaan Turki Utsmani, bangunan yang dijadikan sebagai istana sultan tidak hanya Topkapi, di antaranya adalah Dolmabache. Beberapa sultan lainnya, pernah tinggal di tempat ini. Salah satunya adalah Sultan Abdul Mejid I. Dan sejak ia memilih tinggal di Istana Dolmabahce, kondisi bangunan Istana Topkapi menjadi telantar. Setelah bertahun-tahun tidak digunakan lagi, dan berakhirnya kekuasaan Turki Utsmani, maka pada 1923, pemerintah Turki melakukan perubahan pada Istana Topkapi. Dan tepatnya pada 3 April 1924, pemerintah Turki menjadikannya sebagai museum pemerintah Turki. Sebagai museum, pemerintah Turki menggunakan Istana Tiopkapi untuk menyimpan berbagai benda peninggalan sejarah dan barang-barang berharga peninggalan kesultanan Turki Utsmani. Berbagai barang langka dan tentu saja mahal itu, kini dipamerkan untuk umum, antara lain, berbagai bentuk perhiasan yang terbuat dari emas, zamrud, ruby (batu merah delima), dan jade (batu berwarna lumut). Selain itu, di dalam museum Istana Topkapi juga dipamerkan berbagai benda bersejarah lainnya, di antaranya jubah, lukisan, senjata, perisai, baja, miniatur daerah kekuasaan Utsmani, kaligrafi, serta beberapa perabot rumah tangga istana, seperti sendok, gelas, dan piring yang terbuat dari emas. Masih di seputaran Istana, juga ada peninggalan berharga, benda-benda yang pernah dipakai Nabi Muhammad SAW. Berbagai peninggalan itu ditempatkan di dalam suatu ruang khusus yang terpisah dari Istana Topkapi. Ruangan itu bernama Paviliun Relikui Suci. Di dalamnya terdapat pedang, mantel, gigi (Nabi Muhammad SAW yang tanggal pada Perang Uhud), bakiak, bendera, cambuk, segenggam janggut, sajadah, tongkat, busur panah, sabuk, stempel, dan berbagai benda lainnya. Selain itu, terdapat pula pedang-pedang milik keempat sahabat Nabi, Khulafa ar-Rasyidin (Abubakar As-Shidiq, Umar bin Khathab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib). Di tempat ini juga tersimpan cetakan telapak kaki kanan Nabi Muhammad SAW. Telapak kaki kanan itu tercetak saat peristiwa Miraj. Sedangkan telapak kaki kirinya kini tersimpan di Masjid al-Aqsa. Terdapat pula beberapa surat buatan Nabi SAW. Salah satunya surat yang ditujukan kepada Muqawqis (seorang raja dari negeri Mesir). Surat itu ditulis di daun kurma dan ditemukan di Mesir pada 1850. Peninggalan bersejarah lainnya adalah manuskrip Alquran pertama yang ditulis di atas lembaran kulit binatang. Manuskrip tersebut merupakan lembaran Alquran sebelum disatukan menjadi sebuah kitab utuh. Salah satu yang tersimpan di Topkapi ialah Surat Al-Qadar. Selain itu, masih banyak peninggalan lainnya dari para tokoh yang berjasa dalam perkembangan Islam. atu lagi keunikan dari yang terdapat pada Istana Topkapi, bila memasuki ruangan peninggalan ini, pengunjung dapat mendengar alunan suara dari 24 orang Hafiz (penghafal) Alquran. Mereka secara bergantian melantunkan bacaan Alquran dengan syahdunya. Konon, dahulunya pembacaan Alquran di Istana Topkapi selalu dibaca tanpa henti selama 24 jam nonstop dan terus menerus selama lebih dari 407 tahun (dari tahun 1517-1924).